Rabu, 23 November 2016

Our Little Lybi #1


“Gadis kecil itu tidak mengerti apa-apa. Yang dia tau hanya bermain, tertawa dan menangis. 
Meloncat-loncat di genangan air halaman kala hujan,berlari menuju ruang makan ketika Kak Ani memanggilnya makan, menangis jika Bang Bayu mendorongnya hingga terjatuh saat merebut gelas plastik warna biru, menjaili si tukang cengeng Rendy, bermain boneka atau terkadang bermain masak-masakan bersama Tere, menggangkat jemuran setiap jam lima sore. Dia bahkan tidak memikirkan esok hari, dia tidak memikirkan orang dewasa yang seharusnya mengasuhnya dengan baik. Yang dia tau hanya cara menghormati Kak Ani dan Bu Nida,juga menyayangi teman-temannya. Gadis kecil itu kini sudah berbeda. Kini ia sudah tau pahitnya hidup, lelahnya mencari uang dan beratnya perkuliahan. Dan gadis kecil itu adalah Aku.”

Laporan hari ini, aku sedang merasakan kegundahan yang mendalam. Karena hati sedang mengalami fase kemunduran dan otak sibuk mengulas masalalu. Lagi-lagi aku curhat di buku warna-warni ini. Aku terlalu tenggelam dengan kebahagiaan masa kecil. Tak siap jadi dewasa, tak siap mengurusi berkas perkuliahan yang harus kuantar besok.

“Arggghh…” Kurebahkan badan ke belakang melambung ke kasur yang tidak terlalu empuk ini.
Setelah itu aku ingat-ingat, bukankah seharusnya aku sedang senang diterima di salah satu Universitas Negeri dan menjadi seorang Mahasiswi. Excited! Happy! Is that this feel. But di antara kegembiraanku selalu saja tidak jadi sepenuhnya bahagia. Bayar semester untuk semester depan misalnya. Belum uang buku. Mendung selalu saja bergelayutan di kepalaku. Atau kadang sampai turun hujan di kelopak mata juga badai yang menahun. Tidak apa-apa, kamu boleh datang kapan saja. So ? deal ? karena sekarang aku sedang bahagia, boleh tidak aku “bahagia” ? sebentar saja ?

“Hmmm ya Allah…”

Lalu masalah lenyap bersama pejaman mata.

***
“Bik! Ibik ! Bangun! ” Bingsing suara cempreng itu membuatku mulai sadar dari koma semalaman.

“Hallo, ada orang kah ?” lanjutnya, bukannya ini Negara merdeka yang damai. Tapi kenapa hidupku tidak pernah damai Gusti.

“Ho’oo tunggu bentar” jawabku sekeras yang aku bisa dengan nyawa yang baru setengah masuk ke tubuh. Kulihat jam masih jam 7 pagi. Kenapa anak itu datang sepagi ini.

Langkahku lunglai menuju pintu, namun “Dukk”

“AWWW!!” lagi lagi dan lagi dan lagi kebeberapa kalinya kakiku mencium kaki meja. Asmara yang aneh antar kaki ku dan kaki meja. Denyutannya sampai ke ujung kepala, jempolku makin sengklek ke kiri, dan ukurannya makin membesar.

“Bik ! kenapa ? ya Tuhan Lybinatun Sawarni, kamu nendang meja lagi. Hahaha…” celotehan Tere di luar pintu membuat emosiku naik ke ubun-ubun.

Sambil terpincang-pincang aku menuju pintu dan membukanya.

“Sakit bik ?” Tanya Tere sambil menahan tawa.

“Gak sakit, udah biasa dapat pijitan pagi dari meja. Ngapain sih teriak-teriak ? ntar tetangga pada marah loh” Meladeni candaan Tere dengan muka kesal.

“Haha, sorry-sorry. Eh ini ada sarapan dari kak Ani ” Tere meletakkan rantangan di meja tempat kejadian perkara itu.

“wahh, nyam-nyam. Senangnya dapat sarapan. Hehe. Makasih re” tanganku spontan memeluk Tere namun di tolak.

“Mandi sana baru peluk, ihh bau iler tauk” Tere mengelak pelukanku.

“Iya iyaaa Mama. haha” lalu aku jalan menuju kamar mandi.

Tere adalah sahabatku, kadang kakak, atau kadang dia jadi adik, Sosok yang sangat berarti bagiku. Kami saling melengkapi, saling mengisi posisi orang yang bahkan tidak pernah kami punya, sosok Ibu dan sosok seorang Ayah.

Kami besar di panti asuhan, di buang oleh seorang yang sering kalian sebut“Ibu” , mandiri dengan cara kami masing-masing. dan sekarang kami sudah dewasa. Aku memutuskan pergi ke kota agar bisa melanjutkan pendidikan, modal nekat dan dengan modal uang Kak Ani untuk membayar SPP semester ini. Tere mengikutiku ke kota ini. Bekerja di Cutie Bouquet, menyusuni bunga-bunga dan membuatnya selalu cantik. Seperti hatinya, kesabarannya. Aku beruntung bertemu dengan Tere, bisa tumbuh dan dewasa bersamanya.

***

“Ini kampusmu bik” Tere Tercengang.

“Iya, gimana bagus kan ? tapi aku gak yakin bisa disini sampai lulus re” aku menunduk memainkan berkas yang aku dekap.

“Wes toh. Jangan mulai lagi. Selalu ada jalan, kan dari dulu gitu. Yang susah selalu pasti akan jadi gampang. Jangan dipikir kali”

“Aku cuma takut bikin Kak Ani kecewa, aku juga gak mau nyusahin kamu terus” kelopak mataku mulai berair.

“Emang aku pernah bilang kamu ngerepotin ? kamu adikku beda sebulan, aku kakakmu. Cukup yakinin itu. semuanya pasti jadi mudah. Kalo nangis ya nangis dulu, jangan di pendam.” Tere mengelus punggungku.

“Nggak, aku gak mau nangis lagi. Aku lagi mau bahagia.” Senyumku mengembang di hadapannya dengan air mata yang menetes sekali. Mulai hari ini aku mau bikin orang yang menyayangi aku bangga.

“Gitu dong, yukk” Tere menggandeng tanganku masuk ke gedung bertingkat yang akan jadi masa depanku.
***
“Hmm, mau balikin berkas mas” aku berbicara kepada mas-mas petugas yang berkacamata bulat.

“Owh, yo yo. Disini. Nama kamu siapa ?” tanyanya sambil melirikku dengan menurunkan kacamatanya.

“Lybinatun Sawarni, hmm Lybi . L Y B I…” selalu seperti ini jika ada orang baru yang ingin mencatat namaku.

“L Y B Y ? piye to ? ni kamu tulis sendiri” sepertinya mas-mas ini mulai lelah dengan antrian ratusan mahasiswa yang datang mengembalikan berkas.

Perjuangan sesak dan mengeja namapun selesai. Tapi Tere entah dimana.

“Mbak mbak, pinjem bolpen dong sebentar” sebuah tangan menepuk pundak, dan akupun menoleh.

“ha..” tanyaku sekali lagi sambil membalikkan badan

“pinjam bol..p…” suaranya terhenti.

“Ibik..”

“Rendy…”

Lelaki yang meninggalkan aku di panti asuhan, lelaki yang di adopsi keluarga kaya, lelaki yang pernah begitu aku andalkan, lelaki yang katanya pergi ke pulau kalimantan, kenapa dia ada disini ? kenapa harus dia dari ratusan orang disini ? Aku, harus bagaimana ?


Bersambung…


 

I'm a Glasses Girl Template by Ipietoon Cute Blog Design and Homestay Bukit Gambang