Kamis, 17 Oktober 2013

Pride and Prejudice (2005) recomendasi film ini wajib di tonton :D



Sutradara: Joe Right

Skenario: Deborah Moggach, dari buku karya Jane AustenCast: Keira Knightley, Matthew Macfadyen, Donald Sutherland, Rosamund Pike, Brenda Blethyn, dll.

Pride and Prejudice adalah film yang diangkat dari salah satu novel klasik favoritku sepanjang masa. Cerita yang manis dengan latar belakang Victorian England yang segar (serius nih, bisa dilihat kan dari udaranya). Kisah karya Jane Austen ini bisa diibaratkan chicklit zaman Victorian lah. Lihatlah busana-busana tokohnya, cara ngomongnya, dan tentu saja masalahnya. Aiihh, chicklit sekaleeee …. Ternyata, ga dulu ga sekarang, yang namanya cewek ya begitulah. Suka cekikikan, suka bisik-bisik ngomongin cowok, suka bingung memutuskan, suka takut-takut menyatakan pendapatnya. Nah, begitu pulalah gadis-gadis Bennet, yaitu Jane, Elizabeth, Mary, Lidya, dan Kitty.
Si Jane ini adalah anak pertama, yang tercantik di antara gadis-gadis itu. Saking takutnya anak perempuan tertuanya itu jadi perawan tua, semangat menjodohkan nyokap mereka langsung meledak-ledak waktu dikabarkan ada seorang bujangan kaya dari London membeli salah satu kastel. (Btw, aku suka banget akting si nyokap di film ini. Bikin bersyukur deh, nyokapku ga begitu, hehehe…) Nah, jadilah mereka bertemu dengan si bujangan dalam suatu pesta dansa.
The Bennet Girls
Lalu, lalu … fokus cerita pun berubah. Ternyata, Mr. Bingley, si bujangan itu, membawa temannya yang bernama Mr. Darcy. Mr. Darcy yang ganteng serta merta menarik perhatian Elizabeth. Dan, selanjutnya, masuklah itu unsur-unsur pride and prejudice yang berserakan menghalau kisah kasih mereka (wadow!!). Jadi, masalah dalam cerita ini, semuanya diakibatkan oleh prasangka dan kekeraskepalaan. Tapi yang penting happy ending kan.
Secara cerita, sebenarnya nggak ada bedanya film ini dengan bukunya. Tapi entah kenapa, aku sedikit kecewa saat nonton filmnya. Setingnya sudah pas, ceritanya setia, tapi kok alurnya jadi cepet banget ya. Rasanya kayak lagi lari. Lho, lho, kok tiba-tiba udah sampe sini ya, begitulah yang senantiasa ada dalam pikiranku. Terus, cast-nya pun agak kurang pas gitu… terutama tuh, si Mark Darcy. Kenapa ya, aku tuh selalu membayangkan beliau sebagai sosok yang gagah dan tatapannya bisa langsung membuat wanita takluk, tapi, yang di film ini (diperankan oleh Matthew Macfadyen) dia kok lemes gitu sih. Dan tatapannya, senduuuu….
Mr. Darcy yang loyo (kenapa loyo sih?)
Kalau Keira Knightley sih aku suka. Meskipun awalnya aku berpikir, “Oh, she’s too pretty to be Elizabeth.” Tapi, sama kayak sutradara film ini, aku lantas berpikir, “Oh, well, when you look at her closely, she’s not that pretty.” Hahaha …. Lalu, ada satu lagi yang aku suka. Endingnya itu lho, aku sukaaaa … soalnya ga ada ciuman. Bukan anti ciuman nih, tapi, kan rasanya ga pantes bok, cium-ciuman pas zaman segitu. Aku saja sempat kesel banget karena di Return of the King, Aragorn ciuman sama Arwen. Huh, they’re like The King and The Elf Princess. They’re not suppose to kiss in public. (Sebenarnya karena di bukunya juga ga ada adegan ciuman sih, inilah risiko film yang diangkat dari buku, penonton suka overexpecting.)
Terlepas dari kelemahan Mr. Darcy dalam film ini, aku ingin merekomendasikan film ini buat ditonton. Bagus lho, aku pun pengin nonton lagi lah, kapan-kapan kalau sempet. Tapi kalo sempet mah, mending baca bukunya lagi aja kaleee ….

happy read,lope lope you all my friends :* :)
 

I'm a Glasses Girl Template by Ipietoon Cute Blog Design and Homestay Bukit Gambang